UNIMALNEWS | Aceh Utara – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Malikussaleh melaksanakan kegiatan studi lapangan ke sejumlah situs sejarah peninggalan Kerajaan Samudera Pasai pada Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Folklor dan Kemalikussalehan yang bertujuan memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap sejarah, budaya, dan nilai-nilai lokal Aceh.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengunjungi beberapa lokasi bersejarah, yakni Museum Islam Samudera Pasai, situs pemakaman Sultan Malikussaleh, serta situs pemakaman Sultanah Nahrisyah. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa mempelajari langsung jejak sejarah Kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Kegiatan ini diikuti oleh 139 mahasiswa yang terdiri dari empat kelas dan diampu oleh empat orang dosen, yaitu Masithah Mahsa, S.Pd., M.Pd. dan Rani Ardesi Pratiwi, S.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Folklor serta Syafrizal, S.Si., M.Si. dan Sri Setiawati, S.Pd, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Kemalikussalehan. Masithah menyebutkan, “studi lapangan menjadi metode pembelajaran penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga mampu melihat secara langsung bukti sejarah dan budaya yang berkembang di masyarakat”.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat belajar langsung dari peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Mereka tidak hanya membaca cerita rakyat dan sejarah dari buku, tetapi juga memahami nilai budaya, religi, dan identitas lokal yang diwariskan hingga saat ini. Tentunya ini dapat memperkaya wawasan mereka terhadap materi kuliah” ujar Masithah.

Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran berbasis lapangan dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan analisis terhadap folklor dan sejarah lokal Aceh, khususnya yang berkaitan dengan kemalikussalehan dan perkembangan Islam di Nusantara.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa terlihat aktif melakukan observasi, mendokumentasikan situs, serta berdiskusi mengenai kisah-kisah yang berkembang di era Kerajaan Samudera Pasai. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah serta budaya daerah.[Alpian]



